MENURUT Bima Satria Putra dalam bukunya, salah satu pemantik anti-kolonialisme internasional, justru berangkat dari pengalaman-pengalaman di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19. Dengan terbitnya sebuah novel yang dapat kita taruh dalam lemari buku berkategori sastra anti-kolonial paling pertama.
Pada tahun 1860, Eduard Douwes Dekker menerbitkan sebuah novel satire berjudul Max Havelaar dengan menggunakan pseudonim Multatuli, yang dalam Bahasa Latin berarti "Aku telah banyak menderita."
Menurut Frank van der Goes, Multatuli sangat berpengaruh di kalangan sosialis dan anarkis, karena secara "Kebetulan, semua yang merupakan bagian dari esensi teori anarkis, ada dalam karya-karyanya".
Oleh anarkis Rusia Peter Kropotkin, Max Havelaar dijajarkan dengan karya-karya Nietzsche, Emerson, Whitman, Thoreau, dan Ibsen.
Penetrasi ide anarkis ke dalam sastra modern, dan di sisi lain juga pengaruhnya, menurut Kropotkin telah membantu berkembangnya ide anarkisme oleh para penulis kontemporer terbaik.
Max Havelaar berkisah tentang keseharian seorang Asisten Residen di Lebak, Banten, yang namanya dijadikan judul novel tersebut.
Max melihat banyak perilaku sewenang-wenang para pejabat dan bangsawan terhadap pekerja perkebunan pribumi.
Ia juga menyaksikan banyak warga yang sawah dan ternaknya dirampas atau dibeli dengan harga yang tidak sesuai oleh Bupati Lebak.
Sementara itu, Residen Banten, yang dijabat seorang Belanda, membiarkan saja kejadian-kejadian ini.
Dia memberikan laporan palsu soal kondisi masyarakat yang sebenarnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Karena tidak tahan lagi menerima banyak aduan dari masyarakat mengenai ketidakadilan dan perlakuan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Bupati Lebak, Max pun melaporkan keluhan masyarakat ke Residen Banten.
Ia meminta Residen memecat Bupati Lebak. Max Havelaar juga melaporkan keluhan tersebut kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Permintaan Max Havelaar ditolak, dan dia justru diberhentikan sebagai Asisten Residen Lebak.
![]() |
| Sumber:dokumen pribadi |
Dalam bentuk yang agak moderat, Max Havelaar dapat dianggap bertanggungjawab sebagai salah satu pemantik, yang mendorong para liberal progresif Belanda mendesak pemerintah. Untuk melakukan reformasi kondisi ekonomi-politik yang lebih baik di tanah pemerintahannya itu.
Puncaknya terjadi hampir 40 tahun kemudian, ketika lahir sebuah paket kebijakan yang dapat dirangkum dalam tiga program Trias Van Deventer: edukasi, irigasi dan emigrasi. Kebijakan tersebut disahkan oleh Ratu Wilhemina pada tahun 1901.
Dalam bentuk yang lebih revolusioner, karya tersebut sedikit banyak telah membantu menumbuhkan semangat anti-kolonial. Sekaligus membangun kesadaran pemberontakan untuk melepaskan diri dari kolonialisme Belanda.
Sumber : Perang Yang Tidak Akan Kita Menangkan karya Bima Satria Putra, hlm 31-36

Posted by 

Emoticon