BLANTERVIO104

Malam Inilah Malam Pembebasan

Malam Inilah Malam Pembebasan
2 Februari 2026

AZAN maghrib mengambang. Lirih dan tak terabaikan. Tak seperti biasa. Surau penuh, langgar lumeber, masjid pun kebak. Jemaah tumplek blek. 

Anak-anak hingga orang tua memenuhi setiap saf. Dari sikap duduknya, mereka tampak tak ingin ketinggalan kereta. 

"Nyegat malam Nisfu Sya'ban," ujar salah satu jemaah, tua, sembari terkekeh, sejurus kemudian terlihat giginya yang belum tumbuh.

Tak sedikit yang meyakini bahwa malam Nisfu Sya'ban adalah waktu penuh berkah. 

Di saat segala permintaan akan dikabulkan. Tanpa hijab, doa menembus langit.

Nisfu Sya'ban merupakan momen pertengahan bulan Sya'ban—tepatnya tanggal 15—yang acapkali dinanti-nanti oleh umat Islam.

Sebagaimana Rajab—yang dimaknai sebagai bulan Allah—serta Ramadhan; bulan umat. Sya'ban juga disebut-sebut sebagai bulan mulia; bulan nabi.

Tiga bulan tersebut—Rajab, Sya'ban dan Ramadhan—menjadi transisi yang menciptakan kesempatan untuk melakukan revolusi spiritual.

Tak ayal, semua tampak bergembira. Membawa makanan ataupun kudapan bagi para jemaah. Bertukar berkat (baca: berkah).

Usai Maghrib ditunaikan, Yasin dibaca tiga kali. Disambung tahlil dan doa. Waktu azan Isya pun diterabas. Hingga bacaan-bacaan mulia tuntas dipanjatkan.

Di saat inilah, acapkali aku tergoda, untuk berpikir, "Kapan Tuhan mengangguk atas doa-doa yang kupanjatkan?"

Apakah semua doa benar-benar terkabul? Atau hanya doa-doa baik yang dipilih?

Salah satu Kiai kharismatik—yang juga penyair—asal Rembang dalam bukunya pernah menulis. Kugaris bawahi, 'saleh ritual' dan 'saleh sosial'.

Empat kata itu mengusik keislamanku. Jangan-jangan selama ini aku hanya Islam-Islaman bukan Islam betulan. 

Yang artinya, praktis aku hanya menjalankan ritual-ritual belaka, tanpa memperhatikan kesalehan setelah itu; saleh sosial.

Pada Senin (2/2) usai Maghrib itu—surau ataupun masjid penuh—barangkali tak sedikit permintaan yang membumbung ke langit. Awak sehat, seger, waras. Iso nyambut gawe, nafkahi anak-bojo. Sukses, dan sejenisnya, dan sejenisnya.

Tapi pada saat yang sama, nafsu di dalam sendiri seakan memberontak, menolak mendahulukan kepentinganku daripada yang lain.

Bukan bermaksud menantang Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku—di malam yang mulia ini—meminta, berdoa supaya guru-guru honorer makmur dan sejahtera. Supaya dapat mencerdaskan kehidupan; anak semua bangsa. 

Aku, berdoa, agar buruh, mahasiswa, pelajar semua yang setia pada kebenaran dan kepentingan umum, yang menyuarakan kelaliman tapi malah dizalimi, segera mendapatkan keadilan langit; sekalipun ini masih berada di alam fisika.

Aku meninggalkan diriku sendiri, beranjak, berdoa terlebih dulu untuk saudara di Aceh dan Sumatera. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih selalu bersama mereka.

Aku masih meyakini Tuhan akan menolong siapa yang lemah dan terpinggirkan. Dengan tangan dan cara-caranya yang tak terlihat.

Maka dari itu, aku berdoa, agar manusia-manusia di Papua hingga Palestina bisa merdeka.

Semerdeka ini saat aku bisa berdoa untuk mereka; dengan perut terisi. 

Bukanlah berdoa adalah permintaan bebas? Bukanlah Islam, ada, sebagai agama pembebasan?

Apa gunanya ritual-ritual yang kujalankan selama ini, jika masih ada saudara seiman, semanusia, yang masih tertindas, terjajah, terpinggirkan?

Al Amin, sebagai pembawa kabar gembira—di penghujung hidup—begitu cemas, begitu gundah dan resah. Bagaimana umat, sepeninggalnya? 

Jaminan Al Firdaus baginya, tampak tak cukup. Apa artinya kebahagiaan jika hanya dinikmati sendiri? 

Begitu pun kini. Apa artinya merdekaku—kita—jika masih ada yang ditindas?

Nyatanya manusia tidak akan pernah selesai berdoa. Dalam keadaan mati sekalipun.

Namun, sudah barang tentu kita semua telah sadar. 

Ada yang lebih penting daripada berdoa. Kita tahu itu apa. Karena sejatinya doa, adalah kata kerja, yang mesti dijalani seumur hidup.


***

Dalam pengantar sebuah roman gubahan Sabda Armandio, Arthur Harapan menulis, "Sebelum perpisahan kami di Masjid Gberia Fotombu, Sierra Leone, seorang pengelana Arab yang menemani saya selama seribu satu harmal berpesan, 'Ingat, Sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.'"

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

4452711666620850204