BLANTERVIO104

Menilik Gereja Kaliceret, Cagar Budaya Saksi Salatiga Zending sebelum Kemerdekaan

Menilik Gereja Kaliceret, Cagar Budaya Saksi Salatiga Zending sebelum Kemerdekaan
4 Februari 2026

GEREJA Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) Kaliceret—nama sebelumnya Salatiga Zending—tercatat sebagai Cagar Budaya. Nomor inventarisasi 11-15/Gbo/2013/TB/02. 

Diriwayatkan dibangun pada 1898, tepatnya di Dusun Kaliceret, Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

Pertama-tama, datanglah orang-orang dari Salatiga Zending. Membangun rumah dari welit/ilalang yang dulunya berlokasi di Pastori GKJ Kaliceret. 

Rumah tersebut dipakai untuk mengabarkan Injil melalui bidang kesehatan. 

Beberapa orang sembuh, tidak kembali ke daerah asalnya. Menetap serta menjadi penganut Kristen. Adapun Pdt. Steisen, Pdt. Prusdey, dan Pdt. Panenga pernah tinggal di sini.

Gereja memiliki halaman (berdiri di tanah) yang luas. Dengan panjang bangunan 19m x lebar 12m x tinggi 8m.

Berdasarkan pantauan Kawan Gubug Baca pada Minggu (25/1), bangunan Gereja utamanya di atap-atap telah mengalami peremajaan. Seperti plafond PVC, termasuk pewarnaan ulang (biru putih menjadi coklat putih).

Tak hanya itu, lantai yang semula plester-tegel pun kini telah di keramik. Bangunan didominasi dari bahan kayu jati, perpaduan arsitektur Belanda-Jawa. 

Pada bagian bawah (atas sloof) melintang lonjoran besi; sebagai sabuk pengaman konstruksi bangunan.

Jamak orang menulis, gereja ini dibangun tanpa paku. Ya, ada benarnya. Teknologi yang digunakan memang nagel atau dowel (paku bulat dari kayu). 

Kendati demikian, di beberapa titik dan sudut memang tampak, tidak menggunakan paku (besi) melainkan baut. Mengikat antara lonjoran besi dengan konstruksi kayu pada bangunan gereja.

Kini, ancaman nyata atas bangunan bersejarah ini terletak pada pelapukan kayu. 

Padahal bangunan ini menjadi saksi persebaran Kristen melalui media kesehatan dan pendidikan (narasi lanjutan akan kami buat dalam postingan selanjutnya). Ya, gereja ini sarat akan jejak misionaris Jerman pada masa kolonial Belanda.

Berada di jalan raya Gubug-Salatiga, menjadikannya strategis sebagai salah satu episentrum penginjilan. 

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

4452711666620850204