BLANTERVIO104

Refleksi Historis Novel 1984 Karya George Orwell

Refleksi Historis Novel 1984 Karya George Orwell
4 Juni 2026


Novel distopia karya George Orwell berjudul Nineteen Eighty-Four atau sering ditulis 1984 adalah karya yang unik. Dari segi cerita novel ini mengambil latar waktu dimana dunia dalam keadaan yang distopia (kemungkinan tidak terjadi di dunia nyata) namun terasa begitu dekat dengan kita.

Melalui tokoh-tokohnya yang tidak begitu banyak, Orwell membuat pembaca mudah menangkap jalannya cerita dirangkainya. Tak heran karena beberapa penilaian inilah yang membuat 1984—juga animal farm—banyak direkomendasikan oleh para konten kreator literasi di beberapa platform media sosial. 


Selain terasa relate dengan kondisi sosial-politik di negara kita, juga lewat buku inilah pembaca akan mendapat pemahaman melalui refleksi yang akan membuat pembaca merasakan pengalaman seperti saat tau jawaban teka teki dari teman yang membuat kita sampai berkata ‘owalah ternyata itu’. Tentu dengan syarat seberapa dalam kita bisa memadukan pengetahuan yang kita miliki hingga menjadi sebuah pelajaran. 


Ditulisan ini kami mencoba membagi beberapa refleksi yang kami temukan ketika membaca novel 1984 dengan menyangkutkan sejarah era Orde Baru.


Pertama, Konsep Big Brother dan Negara integralistik.

Dalam buku 1984 terdapat Big Brother yang merupakan pemimpin tertinggi negara oceania dan juga representasi negara. Siapapun yang menentang Big Brother akan ditangkap dan dipenjara. Diceritakan wajah Big Brother selalu ditempel di mana mana dan matanya selalu mengawasi gerak gerik warga meski tidak pernah seorangpun pernah melihatnya secara langsung. 


Konsep ini mirip dengan apa yang diistilahkan oleh Mr. Soepomo sebagai negara integralistik, konsep negara yang dibangun dari kesatuan utuh diatas semua golongan. Negara diposisikan diatas segalanya berdasarkan kekeluargaan. Orde baru menafsirkan konsep ini dengan memberantas segala bentuk perlawanan yang timbul baik dari oposisi maupun rakyat yang dianggap sebagai ancaman terhadap negara. 


Sama seperti Big Brother yang tidak pernah seorang rakyat pun pernah melihatnya, konsep negara yang oleh Ben Anderson disebut sebagai komunitas terbayangkan menjadi representasi dari sebuah ide tertinggi yang tidak bisa diganggu gugat rakyatnya. Rakyat yang melawan dianggap sebagai pemberontak, wajib ditangkap, dipenjara bahkan dihapuskan—dibunuh. 


Kedua, Newspeak dan EYD.

Rezim yang berkuasa di negara oceania membuat bahasa baru yang disebut Newspeak. Bahasa newspeak sendiri meliputi penyempitan kosa kata dan penghapusan antonim. Hal ini bertujuan agar rakyat hilang kemampuan berpikir kritisnya, melalui penyederhanaan kosa kata yang dianggap berbahaya yang mampu mengekspresikan kemauan memberontak contohnya kosa kata “keadilan” dan “kebebasan”.


Di era Orba pemerintah berusaha melakukan penyeragaman bahasa melalui Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan penambahan beberapa kosa kata baru. Ejaan seperti ‘oe’, ‘tj’, ‘dj’ disempurnakan agar semakin efisien dalam penulisan. Kosa kata baru juga ditambahkan untuk mewakili beberapa kondisi seperti buruh, karyawan, pekerja, pegawai untuk mewakili profesi orang. Pengguna kosa kata baru sebagai pengganti kosa kata lama terkesan ada maksud lain agar rakyat tidak memiliki keterkaitan emosional dengan kosa kata yang mewakilinya.


Hal ini bisa dilihat dalam konteks kata ‘buruh’ yang sering dipakai pada era kemerdekaan. Karena kata ‘buruh’ memiliki makna emosional melawan, berjuang dan merebut kebebasan dianggap oleh orde baru sebagai ancaman maka dari itu diorbitkan lah kata baru yang menggantikannya. Ini patut dicurigai mengingat orde baru sangat dekat secara politik dengan blok Amerika yang saat itu sedang perang dingin dengan Uni Soviet.


Selain itu penyempurnaan ejaan ke dalam ejaan baru dianggap sebagai upaya untuk menjauhkan kedalaman makna karya karya penulis era kemerdekaan. Kita tau pada saat itu banyak seniman beraliran realisme-sosial muncul yang mengangkat tema tema perjuangan, romantisme melawan dalam karyanya.


Penyempurnaan ejaan membuat generasi sekarang terasa sangat jauh dengan karya seniman seniman era kemerdekaan karena menganggap ejaannya terlalu kuno dan sulit dipahami. Untuk alasan itulah penulis semisal Ben Anderson dan Joss Wibisono tetap mempertahankan ejaan lama dalam penulisan karya mereka. 


Ketiga, Doublethink dan Narasi utama.

Konsep doublethink atau berpikir rangkap adalah keyakinan bahwa dua hal yang bertentangan adalah sama sama benar. Rezim Oceania mendoktrin rakyatnya agar selalu berpikir jika ada dua hal yang saling bertentangan maka mereka harus yakin jika keduanya benar hingga pemerintah memutuskan melalui lembaganya bahwa hal ini diantara dua hal tadi yang benar. Rakyat didikte sedemikian rupa sehingga patuh secara mutlak pada narasi yang dilontarkan oleh rezim oceania.


Dalam sejarahnya pemerintahan orba memiliki 3 media massa untuk menarasikan kehendak negara. TVRI sebagai media visual, RRI sebagai media audio dan ANTARA sebagai media cetak. Melalui 3 instrumen media tersebut orba menyebarkan propaganda dan menyeragamkan informasi dimasyarakat sehingga bisa didoktrin sedemikian rupa. Contohnya adalah narasi tentang dalang dibalik peristiwa 30 September 1965.


Pemerintahan sekarang pun juga berusaha untuk membuat narasi utama terhadap penulisan sejarah nasional bangsa Indonesia. Narasi utama ini sangat berbahaya karena bisa saja peristiwa disabotase agar bersimpati pada satu pihak dan menyalahkan pihak lain.


Check and balance harus dilakukan dengan membuat narasi alternatif terhadap penulisan sejarah yang sepenuhnya independen dan bebas dari kepentingan politik. Karena sejarah bukan hanya berhak ditulis oleh pemenang. 

Penulis: Ahmad Khoirul Anam
Seorang yang lebih suka dipanggil punk agamis dan selalu memimpikan dunia yang utopis.

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

4452711666620850204